Guru SD Negeri Samaran Kembangkan PENA BERSERI dan GELIS, Raih Prestasi dalam Lomba Artikel GTK Kemendikdasmen

Guru SD Negeri Samaran Kembangkan PENA BERSERI dan GELIS, Raih Prestasi dalam Lomba Artikel GTK Kemendikdasmen

Share this Post

REMBANG – Guru SD Negeri Samaran Kabupaten Rembang, Dandiyu Seno, berhasil menjadi salah satu peserta terbaik dalam Lomba Penulisan Artikel bagi Guru dan Tenaga Kependidikan dalam rangka HUT ke-81 Republik Indonesia yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.

Dalam lomba tersebut, Dandiyu mengangkat praktik pembelajaran bertajuk “Belajar dari Alam, Menyalakan Masa Depan”. Praktik tersebut memanfaatkan lingkungan sekitar sekolah sebagai sumber belajar melalui dua kegiatan utama, yakni PENA BERSERI dan GELIS.

Dandiyu mengatakan, keikutsertaannya dalam lomba berawal dari keinginan untuk merefleksikan sekaligus membagikan pengalaman pembelajaran yang telah dilaksanakan bersama murid.

Menurutnya, banyak praktik baik yang berlangsung di kelas sering kali hanya menjadi pengalaman guru dan belum terdokumentasikan maupun dibagikan secara luas.

“Pengalaman tersebut perlu dituliskan dan dibagikan. Bukan karena praktik yang saya lakukan sudah sempurna, tetapi mungkin dari pengalaman sederhana itu ada hal yang dapat menginspirasi guru lain,” ujarnya.

Tema “Belajar dari Alam, Menyalakan Masa Depan” berangkat dari potensi lingkungan di sekitar SD Negeri Samaran, seperti persawahan, embung, aliran irigasi, angin, dan sinar matahari. Berbagai potensi tersebut dimanfaatkan sebagai sumber belajar untuk mengenalkan konsep energi kepada murid secara kontekstual.

Dalam pelaksanaannya, Dandiyu mengembangkan PENA BERSERI, akronim dari Perangkat Elektronik Sederhana Berbasis Energi Alternatif. Melalui kegiatan ini, murid tidak hanya mempelajari energi alternatif secara teori, tetapi juga membuat berbagai perangkat sederhana.

Beberapa karya yang dihasilkan antara lain lampu tenaga angin, kipas tenaga surya, lampu tenaga air, dan mobil tenaga surya.

Pembelajaran tersebut kemudian dilanjutkan melalui GELIS atau Gerakan Hemat Energi Listrik. Melalui gerakan ini, murid diajak menerapkan kebiasaan hemat energi, baik di sekolah maupun di rumah.

“PENA BERSERI mengajak murid untuk berkarya, sedangkan GELIS mengajak mereka bertindak dan membangun kebiasaan baik dalam menghemat energi,” jelas Dandiyu.

Proses pembelajaran diawali dengan mengajak murid mengamati secara langsung kondisi lingkungan sekitar sekolah. Masyarakat setempat turut dilibatkan sebagai mitra pembelajaran untuk memberikan informasi mengenai potensi alam di lingkungan sekitar.

Hasil pengamatan kemudian diperdalam melalui diskusi, pertanyaan pemantik, tayangan pembelajaran, serta kegiatan kelompok di kelas. Murid selanjutnya merancang dan membuat perangkat sederhana berbasis energi alternatif sebelum menerapkan kebiasaan hemat energi melalui GELIS.

Menurut Dandiyu, pendekatan tersebut memberikan dampak positif terhadap keterlibatan murid. Murid yang sebelumnya cenderung pasif mulai berani menyampaikan pendapat, bekerja sama, dan menunjukkan inisiatif dalam menyelesaikan proyek.

Selain meningkatkan keaktifan, pembelajaran tersebut juga mulai membentuk kesadaran murid terhadap pentingnya penggunaan energi secara bijak.

“Keberhasilan pembelajaran bukan hanya ketika murid mampu menjawab pertanyaan, tetapi ketika pengetahuan yang dipelajari mampu memengaruhi cara mereka bertindak dalam kehidupan,” katanya.

Dalam menjalankan praktik tersebut, tantangan yang dihadapi salah satunya adalah mengubah pola pembelajaran yang semula lebih banyak berpusat pada penyampaian materi menjadi pengalaman belajar yang melibatkan murid secara aktif.

Selain itu, guru perlu menghubungkan materi energi dengan potensi lingkungan, mengelola kerja sama dalam proyek, serta melibatkan masyarakat dan orang tua dalam mendukung proses pembelajaran.

Dandiyu juga menilai bahwa pembelajaran tidak seharusnya berhenti pada pembuatan produk. Karena itu, GELIS dikembangkan sebagai upaya agar pengetahuan yang diperoleh murid dapat berlanjut menjadi tindakan dan kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.

Pengalaman pembelajaran tersebut selanjutnya dituangkan dalam artikel melalui proses refleksi, mulai dari persoalan yang dihadapi, langkah yang dilakukan, hingga perubahan yang muncul setelah pembelajaran dilaksanakan.

Terpilih sebagai salah satu peserta terbaik dalam lomba tingkat nasional tersebut menjadi apresiasi tersendiri bagi Dandiyu. Namun, menurutnya, pencapaian tersebut juga menjadi motivasi untuk terus memperbaiki kualitas pembelajaran.

Ia menegaskan bahwa inovasi pembelajaran tidak harus dimulai dari fasilitas yang kompleks maupun kondisi yang sempurna. Guru dapat memulainya dari persoalan, potensi lingkungan, serta kebutuhan nyata murid.

“Guru tidak perlu menunggu kondisi yang sempurna untuk memulai inovasi. Kita dapat memulai dari persoalan yang ada di sekitar, dari potensi sederhana yang kita miliki, dan dari kebutuhan nyata murid. Yang terpenting adalah kemauan untuk mencoba, merefleksikan hasilnya, dan terus memperbaikinya,” pungkasnya.